
Sumur air Zamzam yang kemunculannya berasal dari hentakkan kaki Nabi Ismail as, tatkala bayinya, disaat ia dan Ibunya Sitti Hajar terdampar berada di gurun yang gersang, kering dan tandus, sudah banyak diceritakan dalam kisah-kisah riwayat kenabian.
Namun banyak yang tidak tahu, jika jauh dimasa setelah itu, sumur Zamzam yang menjadi titik mula berdiri dan berkembangnya kota Mekkah, terus menunjukkan keajaiban dan keistimewaannya sebagai sumber air yang mulia.
Berabad-abad setelah wafatnya Nabi Ismail as dan sang ayahnya Ibrahim as, kota Mekkah telah berkembang dengan kehadiran para peziarah sepanjang tahun yang hendak beribadah ke Baitullah, yaitu Ka’bah yang dibangun dengan tangan sendiri oleh Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as.

Dikutip dari kisah yang diceritakan dalam buku “Sirah Nabawiyah, Sejarah Lengkap Kehidupan Nabi Muhammad Saw”, oleh Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, saat itu Abdul Muththalib, seorang tokoh terkemuka bangsa Quraisy, suku yang menguasai kota Mekkah, mendapatkan mimpi dalam tidur malamya, bahwa ia diperintahkan untuk menggali sumur Zamzam dan menjelaskan letak sumurnya.
Dimasa itu, sumur Zamzam hanya berupa telaga kecil yang dibiarkan tergenang dan menjadi sumber penghidupan masyarakat kota Mekah sekaligus menjadi pelepas dahaga para peziarah yang datang mengunjungi Ka’bah.
Setelah mendapat mimpi itu, Abdul Muththalib mematuhi perintah di mimpi itu, dengan menggali dan berhasil mendapatkan sumur asalnya.
Sungguh mengejutkan, ternyata didalam sumurnya ditemukan beberapa benda peninggalan Kabilah Jurhum yang sengaja ditanam disitu saat mereka diusir dari Kota Mekkah.
Kabilah Jurhum adalah salah satu kelompok suku yang pernah menguasai Kota Mekkah setelah berakhirnya era kepemimpinan Nabi Ismail as dan keturunannya, namun Kabilah Jurhum kemudian terusir dan digantikan oleh kabilah yang lain sebagai penguasa Kota Mekkah.
Dalam peninggalan di sumur itu ditemukan sejumlah pedang, baju besi dan dua ikat batangan emas. Dari beberapa bilah pedang dan baju besi itu, oleh Abdul Muththalib membuatkan pintu Ka’bah yang kemudian dilapisi dengan emas batangan temuannya tadi.
Melihat keberhasilan Abdul Muththalib itu, para pemuka Quraisy yang lain timbul iri hati dan berniat hendak menguasai pengelolaan sumur Zamzam itu. Abdul Muththalib pun menolak keras, “Tidak bisa, ini adalah hak khusus yang diberikan kepadaku”, ujarnya saat itu.
Namun orang-orang Quraisy itu pun tetap bersikeras, hingga akhirnya timbullah kesepakatan untuk mengadukan masalah ini kepada seseorang dukun perempuan yang dianggap bijak dari Bani Sa’ad Hudzaim yang tinggal di pinggiran Syam.
Mereka pun melakukan perjalanan menuju Syam, Abdul Muththalib dan diiringi rombongan orang Quraisy. Namun ditengah perjalanan, rombongan ini kehabisan persediaan air dan kehausan.
Disini Allah SWT menunjukkan kekuasaannya, dengan langsung memberikan jawaban atas permasalahan mereka yang hendak mereka adukan ke negeri Syam itu.
Ditengah kehausan yang melanda, tiba-tiba Abdul Muththalib yang berjalan terpisah dicurahi oleh air hujan yang lebat, namun anehnya tidak setetespun air hujan yang menyirami rombongan kaum Quraisy.
Maka demi melhat hal itu, tersadarlah orang Quraisy itu akan keistimewaan yang telah diberikan kepada Abdul Muththalib dengan sumur Zamzamnya.
Mereka pun akhirnya memutuskan tak melanjutkan perjalanan, pulang kembali ke Mekkah karena merasa telah mendapatkan jawaban dari Sang Pencipta atas pertanyaan yang semula hendak mereka adukan ke negeri Syam.
Begitulah keistimewaan yang diberikan Allah SWT kepada seorang Abdul Muththalib, salah seorang pemimpin suku Quraisy yang mendapatkan tempat istimewa.
Dan sejarah juga telah mencatat, bahwa Abdul Muththalib dikemudian hari juga telah menjadi orang pilihan, yang dari garis keturunannya lahir seorang nabi akhir zaman, manusia utama dan paling mulia menjadi junjungan umat manusia.
Dialah Rasulullah, Muhammad SAW, sang cucu Abdul Muththalib, anak dari putranya Abdullah bin Abdul Muththalib yang telah ditakdirkan untuk manusia paling sempurna hingga akhir zaman.
Sumber